Selasa, 19 Oktober 2010

Gadis Menangisi Tunangan


BAGAI GADIS MENANGISI TUNANGANNYA ! 

             Saudaraku ! Nabi Yoel menceritakan tentang datangnya kawanan belalang yang merusak segala tumbuhan dan musim kemarau yang hebat di Palestina (Yoel 1:8-20). Menurut Yoel, malapetaka ini merupakan pertanda datangnya hari Tuhan. Dia menghukum siapa saja yang melawan kehendakNya. Seiring dengan itu, Yoel memaklumkan pesan Allah kepada bangsa Israel agar bertobat. Juga janji Allah untuk memberkati umatNya dan memulihkan kemakmuran mereka.  

             Tulah belalang itu merupakan akibat dari keberdosaan mereka kepada Tuhan (bnd. Yes 22:2; Yer 4:8). Tulah belalang kini datang menyerang. Mereka kuat dan terbilang banyaknya. Giginya setajam taring singa betina (ay 6). Keberdosaan itu mengakibatkan ketidaksejahteraan bangsa. Akibatnya, laksana gadis yang berduka, mereka menangisi kematian tunangannya (Yoel 1:8). Belum resmi menikah, tetapi sudah ditinggal mati oleh kekasih. Sorak-sorai sudah di depan mata, tetapi pupus lebih dahulu ditelan kematian. Bagi kita orang Batak khususnya, seorang gadis yang ditinggal mati oleh kekasih, dianggap pembawa sial, sekaligus rasa malu yang teramat dalam. Sedih dan pedih tersayat-sayat !

             Dosa membawa dampak buruk terhadap kelestarian lingkungan. Ekonomi warga jadi suram. Simaklah ayat 9: Gandum dan anggur hilang dari rumah Tuhan. Kalau di gereja juga terjadi pencurian, apalagi di tempat lain ? Tanah juga berkabung. Ladang hancur. Segala gandum musnah. Buah anggur kering. Minyak zaitun habis (ay 10, 16-17). Padang rumput gersang. Pohon-pohonan dan sungai kering kerontang dimakan api (ay 19-20). Akibatnya para petani meratap. Para tukang anggur menangis. Rakyat tak dapat bergembira (ay 11-12). Para imampun menangis dan berkabung (ay 13-15). Bahkan dosa ternyata berimplikasi negatif terhadap kawanan domba yang merana dan gelisah (ay  18, 20). Bagaimana wajah domba kalau gelisah ? Saya juga tidak tahu. Tetapi, komplitlah derita bumi ini !  

             Saudaraku yang kekasih ! Penderitaan bangsa kitapun tak luput dari dosa. Maraknya banjir, kematian karena gizi buruk, longsor, memiliki kaitan dengan mentalitas warga negara. Tiupan dana aspirasi di tingkat legislatif menjadi tanda mereka belum berpihak kepada rakyat, meski dikemas dengan mengatasnamakan solidaritas kepada masyarakat. Dosa siapa ini ? Ini dosa siapa ?  Krisis minyak bumi, krisis listrik dan sumber daya alam lainnya tentu ikut memberi dampak buruk dalam berbagai bentuk. Sebagai gereja, kita wajib menjadi pemerhati krisis energi masa kini, agar penderitaan kita sebagai rakyat dapat semakin teratasi.

             Segala bentuk dosa harus kita lawan, agar kesejahteraan umat semakin terbangun. Kiatnya ? Berpuasa secara kollektif dan berseru minta tolong kepada Tuhan (ay 14). God can not stop loving us. Marilah kita berserah kepadaNya dan jangan menyerah. Maka kita dan bangsa kitapun akan ikut dipulihkan (2 Taw 7:14). Kesalahan memang selalu membawa petaka. Namun insyaf dari dosa, akan selalu membawa mahkota. Bila demikian, maka jamin, tidak akan seorangpun dari antara kita bagai gadis yang menangisi tunangannya. Amin !     

 (Pdt Banner Siburian, MTh)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar