Jumat, 15 Juli 2011

BUAH SULUNG

(Ulangan 26:1-4; Lukas 17:11-19)

          Saudaraku yang kekasih ! Ada banyak macam atau jenis buah. Ada buah mangga, ada buah pepaya dan juga buah kedondong serta buah jambu dan berbagai macam buah lainnya. Ada juga buah dalam arti sebutan dengan makna lain. Kalau Tuhan memberi anak, maka si bayi itu disebut dengan si buah hati. Kalau seseorang memiliki pandangan yang baik, maka hal itu disebut dengan buah pemikiran. Kalau seseorang membawa oleh-oleh, yang dibawanya itu disebut dengan buah tangan.

          Nah, kalau orang memberi persembahan yang terbaik dan yang pertama-tama, apakah itu namanya ?  Itulah yang disebut dengan BUAH SULUNG. Disebut ‘sulung’, bukan karena ada buah bungsu, atau buah ‘anak tengah’. Maksudnya adalah karena adanya pengakuan yang sejati, bahwa Tuhanlah yang memberi kita berkat dalam kehidupan ini. Tanpa Tuhan, hidup ini hambar tanpa arti. 

          Buah sulung itu adalah milik Tuhan. Maka buah sulung wajib dipersembahkan kepada Tuhan sendiri. Buah sulung bukan pemberian. Dalam Perjanjian Lama (PL) buah sulung itu sekali lagi adalah milik Tuhan, dan oleh karena itu, dia wajib dipersembahkan bagi Tuhan. 
                                     
          Itulah yang perintah Tuhan bagi orang Israel (sekaligus bagi kita), di saat Israel sudah masuk ke tanah Kanaan dan berdiam di sana. Hasil pertama dari segala yang mereka kumpulkan dari tanah mereka, haruslah dimasukkan ke dalam sebuah bakul, lalu dibawa ke tempat yang dipilih Tuhan untuk dipersembahkan bagiNya. 

          Kita juga sekarang sejatinya mengingat dan melakukan firman Tuhan ini. Persembahan sulung ini perlu kita hidupkan kembali. Buah pertama dari hasil tanah kita, atau pekerjaan kita, atau dari jabatan kita, sepatutnya kita persembahkan bagi Tuhan. Orang yang baru bekerja, persembahkanlah buah sulungmu kepada Tuhan. Orang yang baru menikah, biasakanlah memberi persembahan sulung di depan altar seusai menerima berkat nikah. Orang yang baru promosi jabatan, orang yang baru naik pangkat, orang yang baru beroleh hasil tanah dan lain-lain, terpanggil untuk mempersembahkan buah sulungnya, atau hasil pertama dari buah pekerjaan, karya, jabatan dan berbagai profesi lainnya. 
                                     
          Dalam Perjanjian Baru, Yesus Kristuslah buah sulung bagi setiap orang beriman. Maksudnya, bila kita betul-betul percaya kepada Yesus Kristus, Juruselamat kita, maka keselamatan itu menjadi ‘motor atau penggerak iman’ bagi kita untuk memberi persembahan dengan tulus. Persembahan itu bukan pemberian (“silehon-lehon”) kepada Tuhan. Tetapi perhatikanlah dengan seksama ayat 3, bahwa persembahan itu adalah wujud pengakuan iman percaya, bahwa Tuhanlah yang menghantar Israel ke tanah perjanjian, juga menghantar dan mendahului kita dalam setiap derap langkah kita di mana pun kita berada.  
          Saudaraku yang kekasih ! Marilah kita menghidupkan kembali persembahan sulung ini di abad modern ini. Tuhan sumber segala berkat, setia memberkati kita semua, baik pekerjaan, keluarga, usaha, duka dan suka serta segenap lika-liku kehidupan kita.  Tuhan memberkati kita semua. Amin !   

 

Pdt Banner Siburian, MTh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar