Rabu, 05 Desember 2012

UNITY IN CHRIST


Unity in Christ (Flp 2:2)
NHKBP Kuala Lumpur, Malaysia
Dipresentasikan oleh :
Pdt Banner Siburian, MTh
Pork Dickson, June 2, 2012
Kerangka Dasar:

a. Sehati Sepikir
b.
Satu Kasih (Kristus)
c.
Satu Jiwa (Penjiwaan)
d.
Satu Tujuan
>< Uniformitas (sama, sebangun)
 
Unity in Diversity

 
Wajah Kesatuan:
 
Air - Kapas; Kapas - Batu

 
Mur - Baut

 
Semen-Batu Pasir

 
PakuTiang/Papan




Air-Gula-Garam>< Air - Minyak 


(Polarisasi)


BACKROUND DASAR
(Yoh 17:20-23)
Ut Omnes Unum Sint 
Bersatu : Teguh; Cerai: Runtuh
   
Sapu lidi: Satu dan Bersama
 
Inklusif dan Terbuka
Makhluk Sosial
 
Awas kepentingan diri sendiri dan Hidup

menyendiri (Pil 2:3-4; bnd. Hawa tergoda saat  

sendiri

 
Visi, Missi 
dan Fundasi  
Matius 7:24-25 (Firman dan Kasih) 

  
Filipi 2:10-11 (Visi Kerajaan Allah)

Kesatuan Iman/organisasi (Yoh 17:20-23; cf. 


HKBP-GKPI)
Solusi melalui   Persaudaraan (Mzm 133:1; cf. 

Yusuf: Solusi dalam Keluarga)
Menjadi Garam dan Terang (Mat 5:13-16)



Pilar Kesatuan
dalam Kehidupan 
 
Kisah Rasul 2:1-13 (Saling Memahami ) 
Waspadai  roh Individualisme (1 Kor 12:15; Pil 2:4; Ibr 10:24) 

Bekal/Senjata
dan Perlengkapan   
 
Merdeka di dalam Tuhan (Gal 5:13; 1 Pet


2:16; cf. Bakmi)


Runtuhkan Tembok Pemisah (Yoh 4:21-26;


Luk 10:25-37)


Perlengkapan Rohani (Ef 6:10-20)


Hidup dalam Firman Allah (cf. Alexander


White: Bon-bon)  





Awas “Danger”
Hamamago 
Motivasi dan Kompetisi tidak sehat (Kej 11:1-11)
Tidak Puas: lintah (Ams 30:15, 7-9)
Keras kepala (Ibr 3:8, 15)
Nikmat sesaat/Emas berduri (cf. Ombak, salju, es)
Prasangka (Teori cacing/alkohol)

“Value”:
Nilai Hidup (1) 
Bekerja Profesional-Kristiani (bnd. Kel 1:15-22)
Jatidiri Jelas: Ya dan tidak (?) (Mat 5:37; 2 Kor 1:17)
Kristus: Motivasi awal; bkn alternatif akhir/Ban serap; ingat bila perlu (Mat 6:33) 

 
“Value”: Nilai Hidup (2)
 Allah satu-satunya; bkn salah satu (Taurat I)
 Jelas melihat wajah Kristus (cf. Tiga orang buta)
Dahulukan penyertaan Allah (bnd. SMA-KMB)
Kerja Keras (1 Tim 2; cf. ‘Burung Nuri…’).
 
         
Waspadai roh Zaman
 
 Anemi Moral
Carpe Diem (Epicurus; bunuh diri


pengharapan mati; kematian sebagai


akhir ?)


Budaya Permissif

 
Dikotomi Moral, ganda dan mendua


(sumur baik: Kemarau dan hujan;
 

nama)

Succes Theology/Budaya Instant (cf.


Mzm 73)


Kompetisi tidak sehat: iri, dengki, ‘late’


(Rom 13:13; 1 Kor 3:3; Yak 3:16; Gal 5:26)


Malas (Ams 18:9; 31:27; 6:6-11)

 
    
Kunci-Kiat Meraih Kesatuan
  
 Bina Kebersamaan (Adam-Eva;


Nuh:berpasangan; Pkh 4:7-12)


Tambah kawan, kurangi lawan

  
(Ams 17:17)


Tingkatkan mutu kehidupan (Yoh 2)


Buat jejaring pd sesama (Mat


18:19-20)


Hargai kelebihan dan kekurangan (Pil


2:3; cf. ‘Burung perkutut’).



 
Langkah-Langkah Praktis
  
 Bangun Tim kerja n ‘Job Des’ (Kel 


17:8-19)


Taat perintah Allah (Kol 3:15; Mat


12:30; Luk 11:23)


Ubah pendekatan-cara berpikir


Sayamenjadi “Kita” (1 Kor 12


Satu tubuh banyak anggota)


Waspadai gigitan ular berbisa (Gal


5:15)

Saling menolong menanggung beban


bersama (Gal 6:2; cf. 2 sayap-4


bersahabatmaksen’)


Bina pengendalian/penguasaan diri


(Ams 25:28; 16:32) 

      
Hymn: Sehati Sepikir, satu kasih, satu jiwa dan satu tujuan
Bind us together, Lord Bind us together with corts that can not be broken
Bind us together, Lord bind us together O bind us together with Love
There is only one God, there is only one King. There is only one body, that is why we can sing
Ihot ma hami, sai ihot ma hami, sai unang sirang be hami
Ihot ma hami sai ihot ma hami, ihoti dohot holongMi
Sada do Debata,
  Raja pe sada do.
  Sada do nang AnakNa, alani i puji ma
Sekian dan Terimakasih !
Terimalah salam hangat dari anak-anak  :

MENJARING ANGIN


Pdt Banner Siburian, MTh



            Akhir-akhir ini keadaan sosial bangsa kita semakin kacau. Setidaknya kekacauan itu diindikasikan oleh merajalelanya dan menjamurnya korupsi  hampir di semua lini. Perpajakan yang telah menaikkan remunerisasi misalnya, ternyata tidak dapat menjadi solusi mencegah suburnya praktek korupsi. Di lembaga kementerian, partai, lembaga pemasyarakatan dan lembaga lainnya menjadi objek untuk memperkaya diri sebagian orang. Belum lagi soal premanisme yang semakin merajalela. Hukum di Negara kita kelihatannya semakin tak bergigi atau mungkin secara sengaja telah ditumpulkan.   
Masih adakah masa depan yang lebih cerah bagi setiap warga di Negara kita tercinta ini ? Masih adakah kemungkinan pemerataan kesejahteraan bagi setiap warga negara ? Betulkah semua warga Negara sama derajatnya di depan hukum ? Wah, pertanyaan ini bukan lagi segudang saja, tetapi sudah bergudang-gudang. Korupsi di Negara kita memang sudah menggurita. Menggurita sekali !
Satu lagi pertanyaan yang menggelitik adalah:  apakah yang dicari orang dalam hidup di dunia ini ?            Dalam Injil Matius 6:19-20 Yesus berfirman: “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya”.  Sebanyak-banyaknya harta kita kumpulkan, tetapi bila Tuhan datang malam ini,  apakah ada gunanya harta itu bagi kita ?
Yesus Kristus mengajarkan, menimbun harta tanpa takut akan Tuhan adalah kebodohan dan kesia-siaan. Ada seorang kaya dengan tanah yang berlimpah-limpah hasilnya. Dia tidak lagi mempunyai tempat untuk menyimpan hasil tanahnya.  Lalu dia berkata di dalam dirinya: “Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah” (Lukas 12:16-21). Lalu Tuhan mengambil jiwanya. Untuk apa dan siapakah itu semua ? 
Mau diperuntukkan dan mau ke manakah harta Gayus Tambunan, Nazaruddin, Angelina Sondakh, Rosa, Dhana Widyatmika dan sederetan orang yang masih antri akan terbongkar ? Mereka sebetulnya sedang antri membangun lumbung yang bocor dan dompet yang bolong.  
Ternyata ada pergeseran makna hidup bagi masyarakat sekarang ini. Makna hidup diukur dari seberapa banyak mereka mempunyai (“how much do they have”). Sejatinya makna hidup diukur dari seberapa jauh kita boleh memberi dan menolong orang lain (“hom much do we give and help”). Kita sedang menonton pentas para pelaku-pelaku degradasi moral. Iman percaya manusia belum memiliki pengaruh atau hubungan langsung dengan praktek hidup sehari-hari. Budaya malu melakukan perbuatan tercela semakin terkikis. Padahal, orang yang tidak tahu malu adalah orang abnormal, bukan ?

Mewaspadai Kesia-siaan dalam Hidup

Bila kita belajar dari kitab Pengkhotbah,maka hidup yang hedonis, kemerosotan moral dan perilaku sosial di atas haruslah diwaspadai. Kewaspadaan itu dimulai dengan kesungguhan untuk belajar hikmat dan pengajaran Allah. Hedonisme, kemerosotan moral mengambil jalan hidup menuju kesia-siaan. Mereka hidup bagai menjaring angin.
Kita memang tidak boleh hidup dengan pesimis. Setiap orang harus mencari hikmat dari Allah agar dapat melihat dan menggapai nilai-nilai yang tetap dan kekal, sehingga hidup yang kita lakoni ini kita jalani dengan nikmat, bahagia dan tenteram. Mengapa ? Karena hari ini kita bisa senang, namun besok sudah terancam. Hari ini seseorang bisa jaya, tetapi besok sudah tercela dan terperdaya serta terpenjara.
Alkitab memang bukan anti kesenangan, harta, uang dan kekayaan. Tuhan tidak mengajarkan agar kita menjauhi itu semua. Tetapi kekayaan yang diperoleh dengan cara yang haram adalah kekayaan yang sia-sia. Uang dan harta yang diperoleh tanpa solidaritas yang tinggi, menjadikan hidup bagaikan berusaha menjaring angin.
Alkitab mengingatkan: “Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia. Dan kekayaan itu binasa oleh kemalangan, sehingga tak ada suatu pun padanya untuk anaknya. Sebagaimana ia keluar dari kandungan ibunya, demikian juga ia akan pergi, telanjang seperti ketika ia datang. Apakah keuntungan orang tadi yang berlelah-lelah menjaring angin ? Malah sepanjang umurnya ia berada dalam kegelapan dan kesedihan, mengalami banyak kesusahan, penderitaan dan kekesalan” (Pengkhotbah 5:9, 13-16).

Jadikan Hidupmu Bermakna

Hidup kita ini memang sebentar saja dan terbatas. Namun meski sebentar dan terbatas, justru kita termotivasi menjadikan hidup yang terbatas dan sebentar tersebut jangan sampai berlalu dengan sia-sia. Ini hanya mungkin didengar dan dilakukan oleh orang-orang yang berhikmat dan setia mencari pengajaran Tuhan.
Wahai para koruptor, berbaliklah dan bertobatlah. Selagi hari masih siang, bergegeslah mencari hikmat dan pengajaran Tuhan. Makna hidup bukan diukur dari sejauh mana dan seberapa banyak orang memiliki. Makna hidup yang sejati diukur dari sejauh mana dan seberapa banyak orang berbuat dan memberi serta mewujudkan solidaritas dengan sesama. Langit akan cerah, saat kita semua berkarya untuk kemaslahatan dan kesejahteraan semua umat Tuhan.
 Dahulu, Tuhan telah membawa orang Israel ke negeri yang dijanjikanNya. Mereka diberi kota-kota yang besar dan baik yang bukan mereka dirikan.  Rumah mereka penuh berbagai barang yang baik, tetapi bukan mereka yang mengisinya, sumur-sumur yang bukan mereka gali, juga kebun-kebun anggur dan kebun-kebun zaitun yang tidak mereka tanami. Kini, janganlah sekali-kali melupakan dan mengabaikan Tuhan, Pemilik dan Pencipta semuanya  (Ulangan 6:10-12).
Jadikanlah hidupmu bermakna. Jangan sampai hidup kita jatuh ke dalam kesia-siaan. Marilah kita kedepankan karakter suka berbagi. Janganlah seperti lintah yang tamak, tidak pernah berkata cukup, akhirnya membawa kejatuhan dan kematian bagi dirinya  (Amsal 30:15). Jangan sampai hidup bagaikan hidup menjaring angin.-   

Jumat, 16 November 2012

Renungan Week End:

RENUNGAN WEEK END AND HAVE A SATURDAY  NICE:


NOVEMBER 2012                                                                                 SABTU 17

Kolosse 2:13-14                Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita, dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakanNya dengan memakukannya pada kayu salib. 

1 Raja-raja 6: 1-38              Ende No. 238:1           Yohanes 13:18-30

Saudaraku yang kekasih ! Meskipun bukan Paulus yang mendirikan jemaat Kolose ini, namun dia merasa bertanggungjawab dengan sepenuh hati atas masa depan dan kelangsungan pemberitaan Injil di Kolose ini. Di sana ternyata ditemukan guru-guru palsu yang mengajarkan bahwa untuk memperoleh keselamatan yang sempurna, maka orang harus menyembah roh-roh yang menguasai alam serta yang memerintah alam semesta, setia menjalankan peraturan-peraturan sunat, memelihara pantangan dan lain sebagainya.  Paulus meluruskan ajaran yang salah dan menyesatkan itu. Katanya: meskipun kamu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita, dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Hal itu dilakukannya dengan memakukannya pada kayu salib.  Pelanggaran dan dosa, itulah yang membuat kita telah mati. Namun, pengampunan akan pelanggaran itu telah menghidupkan kita kembali. Surat hutang kita telah dihapusNya dengan memakukan diriNya di kayu salib. Kematian dan pengorbanan itulah yang telah menjadi keselamatan bagi kita. Bukan lagi sunat, bukan lagi sekedar hidup berpantang apalagi menyembah roh-roh alam semesta. Saudaraku yang kekasih ! Marilah kita percaya dengan sepenuh hati kepada karya keselamatan yang dibawa dan dikerjakan Kristus bagi kita. Jangan ragukan karya keselamatanNya. Percayalah ! Amin !   

Jumat, 05 Agustus 2011

YESUS ROTI HIDUP

Renungan Minggu VII Trinitatis, 07 Agutus 2011: 


(Yohanes 6:30-35)


          Saudaraku ! Ada banyak macam-macam roti. Ada roti bolu, ada pula roti kelapa. Ada roti pandan, ada pula roti kacang. Ada roti gandum, ada pula roti Bali. Ada pula roti manis, ada juga roti asin. Jenisnya macam-macam. Rasanya pun beraneka. Semuanya itu pasti sedap dan lezat untuk dinikmati. Enak…….. !

          Namun, setiap kita makan roti itu, setiap itu pula kita segera akan lapar. Kenyang sebentar, lalu lapar sebentar lagi. Semua orang yang makan roti jenis itu tidak pernah kenyang untuk selama-lamanya. Kecuali roti yang satu ini. Apa itu ? 

          Dialah YESUS SANG ROTI HIDUP. Yesus dalam ayat 35 berfirman: Akulah Roti yang memberi hidup. Orang yang datang kepadaKu tidak akan lapar untuk selamanya. Orang yang percaya kepadaKu tidak akan haus untuk selama-lamanya

          Yesus mengatakan itu dalam rangka meluruskan motivasi yang salah dari orang banyak yang mengikuti Tuhan Yesus. Di awal fasal 6 ini, memang Yesus memberi makan sebanyak 5000 orang, hanya dengan  berbekalkan lima roti dan dua ikan yang sedang dipegang seorang anak (Yoh 6:9). Semua mereka makan dengan puas dan kenyang. Malah ternyata masih tersisa 12 bakul lagi makanan (Yoh 6:12-13). 

          Dalam sebuah istilah Batak, ada yang disebut dengan ungkapan: Ida-ida na butong, jora-jora na male. Maksud sederhananya, seseorang menjadi ketagihan kalau kenyang, dan minta ampun kalau kelaparan. Mengingat peristiwa makan kenyang dan puas tadi, mereka menjadi ketagihan datang kepada Yesus.
                                     
          Nah di sini Yesus melihat ada motivasi yang salah dan keliru. Maka itu, Yesus menegaskan bahwa mereka datang bukan karena telah mengerti keajaiban Tuhan, tetapi sebab mereka sudah makan dengan kenyang. Mereka hanya datang mencari makanan yang segera busuk; bukan mencari makanan yang sejati dan menghidupkan.

          Mereka menginginkan Yesus memberi bukti. Kalau dahulu, nenek moyang mereka dapat beroleh manna di padang gurun. Itu artinya Musa seolah lebih tinggi menurut mereka dibandingkan Yesus. Inilah kesalahan motivasi serta kebutaan mata mereka. Musa tidak pernah memberi roti dari dirinya sendiri. Dia hanya alat di tangan Tuhan. Tetapi Yesus adalah roti hidup itu sendiri. Manna itu memang dapat bertahan 2 atau tiga hari. Tetapi Yesus Roti hidup, kekal selama-lamanya.

          Saudaraku ! Marilah kita mengikut Tuhan bukan demi perut yang sejengkal ini. Perut memang perlu berisi. Namun, tanpa Tuhan semua itu sia-sia semata.  Jauhlah dari kita hidup bergereja untuk mengejar kerakusan atau hamongkuson. Itu tidak pernah memuaskan jiwa, meski sebentar dapat mengenyangkan perut. Makanan dan minuman hanya sekedar ‘human needs’ (Yun: bios). Setelah itu dia akan diproses dalam tubuh lalu berubah menjadi sampah atau istilah ilmiahnya menjadi H-2-S.
                                     
           Orang yang menjadikan makanan dan harta sebagai tujuan hidup ialah orang bodoh. Mengapa ?  Karena perut dan harta tidak pernah menjamin hidup kita sejahtera (bnd. Ams 23:4; 28:20,22). Banyak harta bukan berarti otomatis lama hidup, dan sedikit harta bukan berarti  cepat mati. Tanpa makan, memang tubuh kita tidak bisa hidup, namun tanpa makan bukan berarti kita tidak dapat memiliki hidup . Betul, bukan ?

          Hidup kita hanya terjamin di tangan Yesus, sang Roti hidup. Namun bukan berarti kita tidak perlu makan dan minum. Maksudnya, jangan sampai kita ber-Tuhankan perut. Aneka roti di atas memang penting. Namun Yesus Roti hidup, bukan saja terpenting, namun mutlak dalam kehidupan beriman kita. Amin !
 (

banner_siburian@yahoo.com

www.bannersiburian.blogspot.com

Jumat, 15 Juli 2011

BUAH SULUNG

(Ulangan 26:1-4; Lukas 17:11-19)

          Saudaraku yang kekasih ! Ada banyak macam atau jenis buah. Ada buah mangga, ada buah pepaya dan juga buah kedondong serta buah jambu dan berbagai macam buah lainnya. Ada juga buah dalam arti sebutan dengan makna lain. Kalau Tuhan memberi anak, maka si bayi itu disebut dengan si buah hati. Kalau seseorang memiliki pandangan yang baik, maka hal itu disebut dengan buah pemikiran. Kalau seseorang membawa oleh-oleh, yang dibawanya itu disebut dengan buah tangan.

          Nah, kalau orang memberi persembahan yang terbaik dan yang pertama-tama, apakah itu namanya ?  Itulah yang disebut dengan BUAH SULUNG. Disebut ‘sulung’, bukan karena ada buah bungsu, atau buah ‘anak tengah’. Maksudnya adalah karena adanya pengakuan yang sejati, bahwa Tuhanlah yang memberi kita berkat dalam kehidupan ini. Tanpa Tuhan, hidup ini hambar tanpa arti. 

          Buah sulung itu adalah milik Tuhan. Maka buah sulung wajib dipersembahkan kepada Tuhan sendiri. Buah sulung bukan pemberian. Dalam Perjanjian Lama (PL) buah sulung itu sekali lagi adalah milik Tuhan, dan oleh karena itu, dia wajib dipersembahkan bagi Tuhan. 
                                     
          Itulah yang perintah Tuhan bagi orang Israel (sekaligus bagi kita), di saat Israel sudah masuk ke tanah Kanaan dan berdiam di sana. Hasil pertama dari segala yang mereka kumpulkan dari tanah mereka, haruslah dimasukkan ke dalam sebuah bakul, lalu dibawa ke tempat yang dipilih Tuhan untuk dipersembahkan bagiNya. 

          Kita juga sekarang sejatinya mengingat dan melakukan firman Tuhan ini. Persembahan sulung ini perlu kita hidupkan kembali. Buah pertama dari hasil tanah kita, atau pekerjaan kita, atau dari jabatan kita, sepatutnya kita persembahkan bagi Tuhan. Orang yang baru bekerja, persembahkanlah buah sulungmu kepada Tuhan. Orang yang baru menikah, biasakanlah memberi persembahan sulung di depan altar seusai menerima berkat nikah. Orang yang baru promosi jabatan, orang yang baru naik pangkat, orang yang baru beroleh hasil tanah dan lain-lain, terpanggil untuk mempersembahkan buah sulungnya, atau hasil pertama dari buah pekerjaan, karya, jabatan dan berbagai profesi lainnya. 
                                     
          Dalam Perjanjian Baru, Yesus Kristuslah buah sulung bagi setiap orang beriman. Maksudnya, bila kita betul-betul percaya kepada Yesus Kristus, Juruselamat kita, maka keselamatan itu menjadi ‘motor atau penggerak iman’ bagi kita untuk memberi persembahan dengan tulus. Persembahan itu bukan pemberian (“silehon-lehon”) kepada Tuhan. Tetapi perhatikanlah dengan seksama ayat 3, bahwa persembahan itu adalah wujud pengakuan iman percaya, bahwa Tuhanlah yang menghantar Israel ke tanah perjanjian, juga menghantar dan mendahului kita dalam setiap derap langkah kita di mana pun kita berada.  
          Saudaraku yang kekasih ! Marilah kita menghidupkan kembali persembahan sulung ini di abad modern ini. Tuhan sumber segala berkat, setia memberkati kita semua, baik pekerjaan, keluarga, usaha, duka dan suka serta segenap lika-liku kehidupan kita.  Tuhan memberkati kita semua. Amin !   

 

Pdt Banner Siburian, MTh

Riwayat HIdup I.L. Nommensen

Nama lengkapnya adalah Ingwer Ludwig Nommensen. Dia dilahirkan di Noordstrand  tanggal 6 Februari 1834. Dia adalah satu-satunya anak laki-laki, dengan tiga orang saudara perempuan. Dia disidikan pada minggu Palmarum tahun 1849. Memperoleh pendidikan Sekolah Pendeta di Barmen tahun 1857-1861, beserta kursus-kursus bahasa, seperti bahasa Latin, bahasa Yunani dan bahasa Batak. Ditahbiskan menjadi pendeta pada tanggal 13 Oktober 1861, satu minggu setelah pertemuan ke-empat penginjil di Parausorat, Sipirok. Dia menikah di Sibolga dengan Nona C.M. Gubrodt pada tanggal 6 Maret 1866.
Dia berasal dari keluarga yang sangat sederhana. Ayahnya selalu sakit-sakitan, dan meninggal sewaktu Nommensen berumur 14 tahun (tanggal 21 Juli 1848). Sejak Nommensen berumur 8 tahun. Dia sudah mulai bekerja sebagai pekerja upahan, agar kebutuhan keluarga dapat tercukupi. Pada awalnya dia bekerja sebagai pekerja upahan dengan menggembalakan ternak orang lain. Pada umur 10 tahun, dia menjadi pekerja upahan dengan bertani di sawah orang lain.
Pada umur 13 tahun dia digilas oleh sado. Kakinya terinjak oleh kuda yang membawa sado itu. Selama enam bulan dia lumpuh. Kakinya terus bernanah. Dokter mengatakan: “Kalau mau hidup, kakinya harus dipotong”. Namun, Nommensen tidak bersedia. Nommensen membaca dan merenungkan firman Tuhan dari Yohanes 6:23-26. Setelah itu, dia berdoa: “Ya Allah, sembuhkanlah kaki saya dan suruhlah aku ke tengah-tengah orang penyembah berhala”.
Enam minggu kemudian penyakitnya sembuh. Dia bisa menginjakkan kakinya seperti biasanya. Maka didorong oleh janjinya itulah, hati Nommensen selalu tergerak untuk memberitakan Injil di tengah-tengah penyembah berhala.
Pada usia 19 tahun, Nommensen sebenarnya sudah berkemas pergi berlayar ke tengah-tengah orang penyembah berhala untuk memberitakan Firman Tuhan. Dia selalu teringat dan didorong oleh apa yang telah dijanjikannya sejak berumur 13 tahun, tepatnya pada tahun 1847. Kemudian pada tahun 1853, dia juga berkemas untuk berlayar. Namun tak satupun dari antara sekian banyak kapal yang bersedia membawanya. 
Dan pada tahun 1851-1853, dia kembali bekerja sebagai gembala biri-biri (domba) pada suatu pulau yang berdekatan dengan desa tempat tinggalnya. Di situ dia sakit keras. Majikannya mengantarkannya pulang ke rumah orangtuanya.
Setelah sembuh dari penyakitnya itu, dia kembali bekerja sebagai buruh untuk membuat jalan kereta api antara Hisum dan Rendsburg. Namun, di situpun dia tidak bekerja dalam waktu yang lama. Wabah kolera yang terjadi di sana, membuatnya harus segera kembali lagi ke kampung halamannya. Sambil menantikan adiknya lahir, Lucia, dia juga bekerja sebagai pekerja upahan untuk membuat tembok di desanya.
Kemudian hari dia berangkat ke desa pamannya di kota Okkolm. Di sana dia bekerja sebagai guru pembantu. Tahun 1854-1855, dia menjadi guru pembantu di Risum. Tahun 1855-1857 dia menjadi guru pembantu di Elberfeld.
Setelah ditahbiskan menjadi pendeta, maka tanggal 1 November 1861, Nommensen berangkat menuju Belanda untuk bertemu dengan Pdt. Witteveen, yang telah mengutus Betz dan Van Asselt ke Sumatera. Di sana, dia berkenalan dengan van der Tuuk, yang sebelumnya telah mengunjungi Sumatera dan banyak belajar mengenai orang Batak. Saat itulah dia juga belajar bahasa Batak dari van der Tuuk. Lalu tanggal 24 Desember 1861, Ingwer Ludwig Nommensen menompang kapal PERTINAX, berlayar menuju Sumatera melalui Nieuwendiep.
Dalam pelayaran menuju Sumatera dari Eropah, pada suatu malam Nommensen tidak bisa tertidur. Dia mendengar suatu suara supaya dia naik ke atas. Setelah naik ke atas, dia melihat kapal yang membawa mereka hampir bertabrakan dengan sebuah kapal besar, sedangkan semua anak kapal sedang tertidur. Dengan cepat semua anak kapal dibangunkannya. Kemudian kemudi kapal diambil-alih, sehingga tabrakan maut dapat dihindari.
Dia berlayar selama 142 hari, lalu tiba tanggal 16 Mei 1862 di Padang. Kemudian tanggal 16 Juni dia tiba di Sipirok, dan  terus melanjutkan perjalanan ke Barus pada tanggal 25 Juni 1861, dan kemudian tinggal di Barus selama kurang lebih enam bulan.
Saat itu, Residen Tapanuli tidak mengizinkan Nommensen berdiam di Barus, karena alasan dominasi Islam yang kuat di daerah pesisir, sulitnya sarana jalan menuju pusat tanah Batak melalui Humbang serta pemerintah kolonial yang tidak dapat menjamin keselamatannya di sana. Sebelumnya, rencana Nommensen adalah membuat Barus sebagai basis pekabaran Injil ke dataran tinggi Toba menuju Rambe dan Pakkat.
Karena itu, Nommensen memutar haluan. Dia mengubah rencana dan strategi. Tanggal 30 November, dia meninggalkan Barus menuju Sibolga. Pada tanggal 30 Desember dia memutar haluan dan berangkat menuju Sipirok. Dia bertemu dengan Heine di Sigompulon dan dengan van Asselt di Sarulla, lalu bertemu dengan Klammer di Sipirok sekaligus bertahun baru di sana. Setelah itu, Nommensen tinggal di Parausorat-Sipirok selama 10 bulan. Di situ dia melakukan pekabaran Injil, mengajar anak-anak dan mengunjungi orang-orang sakit.
Setelah kurang lebih 10 tahun  berada dan mengbarkan Injil di Sipirok, maka pada tanggal 7 November 1863, Nommensen berangkat menuju Silindung, lalu tiba di suatu tempat antara Lumbanbaringin Sitompul dan Pansurnapitu. Itulah yang disebut dengan puncak bukit Siatasbarita. Dari situ, Nommensen jelas melihat lembah Silindung. Di situ dia beristirahat serta memanjatkan doa dan tekad serta nazarnya: Hidup atau mati, aku tinggal di tengah-tengah bangsa ini, berdiam memberitakan firmanMu. Dalam sepucuk surat yang dikirimnya ke Barmen, dia menuliskan penglihatan itu sebagai visi masa depan tanah dan masyarakat Batak:
“Dalam roh saya melihat di mana-mana jemaat-jemaat Kristen, sekolah-sekolah dan gereja-gereja. Orang-orang Batak, tua dan muda, berjalan ke gereja-gereja itu. Di setiap pejuru saya mendengar bunyi lonceng gereja memanggil orang-orang beriman datang ke rumah Allah. Saya melihat di mana-mana sawah dan kebun-kebun diusahakan, padang-padang penggembalaan dan hutan-hutan yang hijau, kampung-kampung dan kediaman-kediaman yang teratur yang di dalamnya terdapat keturunan-keturunan yang berpakaian pantas. Saya melihat pendeta-pendeta dan guru-guru orang pribumi berdiri di atas mimbar, menunjukkan cara hidup Kristen kepada yang muda maupun yang tua. Anda mengatakan bahwa seorang pemimpi, tetapi saya berkata, tidak. Saya tidak bermimpi. Iman saya melihat itu semua. Hal itu akan terjadi, karena seluruh kerajaan akan menjadi milikNya dan setiap lidah akan mengetahui bahwa Kristus adalah Tuhan bagi kemuliaan Allah Bapa. Karena itu, saya merasa gembira, walaupun mereka mungkin menentang firman Allah, yang mereka lakukan tepat seperti mudahnya mencegah firman Allah dari hati mereka. Suatu aliran berkat pastilah akan mengalir atas mereka. Hari sudah mulai terbit. Segera cahaya terang akan menembus, kemudian Matahari Kebenaran dalam segala kemuliaanNya akan bersinar atas seluruh tepi langit tanah Batak, dari Selatan bahkan sampai ke pantai-pantai Laut Toba”.
Nommensen berhasil mendirikan Huta Dame, Saitnihuta sebagai ‘pargodungon’ pertama di tanah Batak bagian utara. Dia berdiam di sana selama 9 tahun. Pada tahun 1872, Nommensen pindah dari Huta Dame ke Pearaja, lalu mendirikan rumah dan gereja pada tanah yang diberikan oleh Raja Pontas Lumbantobing (kemudian disebut dengan Obaja). Nommensen pindah ke Pearaja, karena tempat gereja dan perumahan yang ada di Huta Dame sering kebanjiran dan tergenang air.
Demikianlah Nommensen terus mengabarkan Injil serta mengajar. Dari Pearaja Nommensen menyebarkan Injil menuju Toba, Balige, bersama-sama dengan Pdt. Johannsen dan Pdt. Simoneit. Pada tahun 1886, Nommensen juga tinggal di Laguboti serta mengabarkan Injil di sana serta di Sigumpar.
Nommensen mengalami banyak tantangan bahkan duka di dalam keluarga, saat dia mempertaruhkan nyawanya untuk pekerjaan pemberitaan Injil. Anak perempuan sulungnya, bernama Anna, meninggal dunia tanggal 10 Juli 1872. Sembilan hari kemudian, tepatnya 19 Juli 1872, Ny Nommensen jatuh sakit, yang kian hari kian berat. Maka, Ny Nommensen kemudian pindah dan tinggal di Eropah pada tahun 1880. Dan pada tanggal 29 Maret 1886, dia meninggal dunia di sana. Nommensen tidak dapat menghadirinya, karena pekerjaan Injil dan tinggal di Sigumpar. Pada tanggal 23 Mei 1918, Nommensen juga menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Mujizat Tuhan telah nyata. Tuhan sendirilah yang menolong dan mendahuluiNya dalam memberitakan Injil. Karya Nommensen tetap hidup hingga kini. Sungguh luar biasa. Melalui pekerjaan pemberitaan Injil Nommensen, kini kita dapat memetik banyak perenungan kehidupan dari padanya, terutama dalam arak-arakan penginjilan melalui sikap, perangai, perbuatan, tingkah-laku maupun tutur kata kita.
Marilah kita juga meneladani sikap Nommensen, yang imannya kokoh, tekadnya membaja, keteguhan dan kerendahan hatinya, pengharapannya yang teguh serta kesetiaan dan kesungguhannya untuk berserah kepada tangan kuasa Tuhan.
Selamat berjubileum 150 tahun HKBP. Horas HKBP !  

                            Pdt Banner Siburian, MTh