Rabu, 05 Desember 2012

UNITY IN CHRIST


Unity in Christ (Flp 2:2)
NHKBP Kuala Lumpur, Malaysia
Dipresentasikan oleh :
Pdt Banner Siburian, MTh
Pork Dickson, June 2, 2012
Kerangka Dasar:

a. Sehati Sepikir
b.
Satu Kasih (Kristus)
c.
Satu Jiwa (Penjiwaan)
d.
Satu Tujuan
>< Uniformitas (sama, sebangun)
 
Unity in Diversity

 
Wajah Kesatuan:
 
Air - Kapas; Kapas - Batu

 
Mur - Baut

 
Semen-Batu Pasir

 
PakuTiang/Papan




Air-Gula-Garam>< Air - Minyak 


(Polarisasi)


BACKROUND DASAR
(Yoh 17:20-23)
Ut Omnes Unum Sint 
Bersatu : Teguh; Cerai: Runtuh
   
Sapu lidi: Satu dan Bersama
 
Inklusif dan Terbuka
Makhluk Sosial
 
Awas kepentingan diri sendiri dan Hidup

menyendiri (Pil 2:3-4; bnd. Hawa tergoda saat  

sendiri

 
Visi, Missi 
dan Fundasi  
Matius 7:24-25 (Firman dan Kasih) 

  
Filipi 2:10-11 (Visi Kerajaan Allah)

Kesatuan Iman/organisasi (Yoh 17:20-23; cf. 


HKBP-GKPI)
Solusi melalui   Persaudaraan (Mzm 133:1; cf. 

Yusuf: Solusi dalam Keluarga)
Menjadi Garam dan Terang (Mat 5:13-16)



Pilar Kesatuan
dalam Kehidupan 
 
Kisah Rasul 2:1-13 (Saling Memahami ) 
Waspadai  roh Individualisme (1 Kor 12:15; Pil 2:4; Ibr 10:24) 

Bekal/Senjata
dan Perlengkapan   
 
Merdeka di dalam Tuhan (Gal 5:13; 1 Pet


2:16; cf. Bakmi)


Runtuhkan Tembok Pemisah (Yoh 4:21-26;


Luk 10:25-37)


Perlengkapan Rohani (Ef 6:10-20)


Hidup dalam Firman Allah (cf. Alexander


White: Bon-bon)  





Awas “Danger”
Hamamago 
Motivasi dan Kompetisi tidak sehat (Kej 11:1-11)
Tidak Puas: lintah (Ams 30:15, 7-9)
Keras kepala (Ibr 3:8, 15)
Nikmat sesaat/Emas berduri (cf. Ombak, salju, es)
Prasangka (Teori cacing/alkohol)

“Value”:
Nilai Hidup (1) 
Bekerja Profesional-Kristiani (bnd. Kel 1:15-22)
Jatidiri Jelas: Ya dan tidak (?) (Mat 5:37; 2 Kor 1:17)
Kristus: Motivasi awal; bkn alternatif akhir/Ban serap; ingat bila perlu (Mat 6:33) 

 
“Value”: Nilai Hidup (2)
 Allah satu-satunya; bkn salah satu (Taurat I)
 Jelas melihat wajah Kristus (cf. Tiga orang buta)
Dahulukan penyertaan Allah (bnd. SMA-KMB)
Kerja Keras (1 Tim 2; cf. ‘Burung Nuri…’).
 
         
Waspadai roh Zaman
 
 Anemi Moral
Carpe Diem (Epicurus; bunuh diri


pengharapan mati; kematian sebagai


akhir ?)


Budaya Permissif

 
Dikotomi Moral, ganda dan mendua


(sumur baik: Kemarau dan hujan;
 

nama)

Succes Theology/Budaya Instant (cf.


Mzm 73)


Kompetisi tidak sehat: iri, dengki, ‘late’


(Rom 13:13; 1 Kor 3:3; Yak 3:16; Gal 5:26)


Malas (Ams 18:9; 31:27; 6:6-11)

 
    
Kunci-Kiat Meraih Kesatuan
  
 Bina Kebersamaan (Adam-Eva;


Nuh:berpasangan; Pkh 4:7-12)


Tambah kawan, kurangi lawan

  
(Ams 17:17)


Tingkatkan mutu kehidupan (Yoh 2)


Buat jejaring pd sesama (Mat


18:19-20)


Hargai kelebihan dan kekurangan (Pil


2:3; cf. ‘Burung perkutut’).



 
Langkah-Langkah Praktis
  
 Bangun Tim kerja n ‘Job Des’ (Kel 


17:8-19)


Taat perintah Allah (Kol 3:15; Mat


12:30; Luk 11:23)


Ubah pendekatan-cara berpikir


Sayamenjadi “Kita” (1 Kor 12


Satu tubuh banyak anggota)


Waspadai gigitan ular berbisa (Gal


5:15)

Saling menolong menanggung beban


bersama (Gal 6:2; cf. 2 sayap-4


bersahabatmaksen’)


Bina pengendalian/penguasaan diri


(Ams 25:28; 16:32) 

      
Hymn: Sehati Sepikir, satu kasih, satu jiwa dan satu tujuan
Bind us together, Lord Bind us together with corts that can not be broken
Bind us together, Lord bind us together O bind us together with Love
There is only one God, there is only one King. There is only one body, that is why we can sing
Ihot ma hami, sai ihot ma hami, sai unang sirang be hami
Ihot ma hami sai ihot ma hami, ihoti dohot holongMi
Sada do Debata,
  Raja pe sada do.
  Sada do nang AnakNa, alani i puji ma
Sekian dan Terimakasih !
Terimalah salam hangat dari anak-anak  :

MENJARING ANGIN


Pdt Banner Siburian, MTh



            Akhir-akhir ini keadaan sosial bangsa kita semakin kacau. Setidaknya kekacauan itu diindikasikan oleh merajalelanya dan menjamurnya korupsi  hampir di semua lini. Perpajakan yang telah menaikkan remunerisasi misalnya, ternyata tidak dapat menjadi solusi mencegah suburnya praktek korupsi. Di lembaga kementerian, partai, lembaga pemasyarakatan dan lembaga lainnya menjadi objek untuk memperkaya diri sebagian orang. Belum lagi soal premanisme yang semakin merajalela. Hukum di Negara kita kelihatannya semakin tak bergigi atau mungkin secara sengaja telah ditumpulkan.   
Masih adakah masa depan yang lebih cerah bagi setiap warga di Negara kita tercinta ini ? Masih adakah kemungkinan pemerataan kesejahteraan bagi setiap warga negara ? Betulkah semua warga Negara sama derajatnya di depan hukum ? Wah, pertanyaan ini bukan lagi segudang saja, tetapi sudah bergudang-gudang. Korupsi di Negara kita memang sudah menggurita. Menggurita sekali !
Satu lagi pertanyaan yang menggelitik adalah:  apakah yang dicari orang dalam hidup di dunia ini ?            Dalam Injil Matius 6:19-20 Yesus berfirman: “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya”.  Sebanyak-banyaknya harta kita kumpulkan, tetapi bila Tuhan datang malam ini,  apakah ada gunanya harta itu bagi kita ?
Yesus Kristus mengajarkan, menimbun harta tanpa takut akan Tuhan adalah kebodohan dan kesia-siaan. Ada seorang kaya dengan tanah yang berlimpah-limpah hasilnya. Dia tidak lagi mempunyai tempat untuk menyimpan hasil tanahnya.  Lalu dia berkata di dalam dirinya: “Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah” (Lukas 12:16-21). Lalu Tuhan mengambil jiwanya. Untuk apa dan siapakah itu semua ? 
Mau diperuntukkan dan mau ke manakah harta Gayus Tambunan, Nazaruddin, Angelina Sondakh, Rosa, Dhana Widyatmika dan sederetan orang yang masih antri akan terbongkar ? Mereka sebetulnya sedang antri membangun lumbung yang bocor dan dompet yang bolong.  
Ternyata ada pergeseran makna hidup bagi masyarakat sekarang ini. Makna hidup diukur dari seberapa banyak mereka mempunyai (“how much do they have”). Sejatinya makna hidup diukur dari seberapa jauh kita boleh memberi dan menolong orang lain (“hom much do we give and help”). Kita sedang menonton pentas para pelaku-pelaku degradasi moral. Iman percaya manusia belum memiliki pengaruh atau hubungan langsung dengan praktek hidup sehari-hari. Budaya malu melakukan perbuatan tercela semakin terkikis. Padahal, orang yang tidak tahu malu adalah orang abnormal, bukan ?

Mewaspadai Kesia-siaan dalam Hidup

Bila kita belajar dari kitab Pengkhotbah,maka hidup yang hedonis, kemerosotan moral dan perilaku sosial di atas haruslah diwaspadai. Kewaspadaan itu dimulai dengan kesungguhan untuk belajar hikmat dan pengajaran Allah. Hedonisme, kemerosotan moral mengambil jalan hidup menuju kesia-siaan. Mereka hidup bagai menjaring angin.
Kita memang tidak boleh hidup dengan pesimis. Setiap orang harus mencari hikmat dari Allah agar dapat melihat dan menggapai nilai-nilai yang tetap dan kekal, sehingga hidup yang kita lakoni ini kita jalani dengan nikmat, bahagia dan tenteram. Mengapa ? Karena hari ini kita bisa senang, namun besok sudah terancam. Hari ini seseorang bisa jaya, tetapi besok sudah tercela dan terperdaya serta terpenjara.
Alkitab memang bukan anti kesenangan, harta, uang dan kekayaan. Tuhan tidak mengajarkan agar kita menjauhi itu semua. Tetapi kekayaan yang diperoleh dengan cara yang haram adalah kekayaan yang sia-sia. Uang dan harta yang diperoleh tanpa solidaritas yang tinggi, menjadikan hidup bagaikan berusaha menjaring angin.
Alkitab mengingatkan: “Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia. Dan kekayaan itu binasa oleh kemalangan, sehingga tak ada suatu pun padanya untuk anaknya. Sebagaimana ia keluar dari kandungan ibunya, demikian juga ia akan pergi, telanjang seperti ketika ia datang. Apakah keuntungan orang tadi yang berlelah-lelah menjaring angin ? Malah sepanjang umurnya ia berada dalam kegelapan dan kesedihan, mengalami banyak kesusahan, penderitaan dan kekesalan” (Pengkhotbah 5:9, 13-16).

Jadikan Hidupmu Bermakna

Hidup kita ini memang sebentar saja dan terbatas. Namun meski sebentar dan terbatas, justru kita termotivasi menjadikan hidup yang terbatas dan sebentar tersebut jangan sampai berlalu dengan sia-sia. Ini hanya mungkin didengar dan dilakukan oleh orang-orang yang berhikmat dan setia mencari pengajaran Tuhan.
Wahai para koruptor, berbaliklah dan bertobatlah. Selagi hari masih siang, bergegeslah mencari hikmat dan pengajaran Tuhan. Makna hidup bukan diukur dari sejauh mana dan seberapa banyak orang memiliki. Makna hidup yang sejati diukur dari sejauh mana dan seberapa banyak orang berbuat dan memberi serta mewujudkan solidaritas dengan sesama. Langit akan cerah, saat kita semua berkarya untuk kemaslahatan dan kesejahteraan semua umat Tuhan.
 Dahulu, Tuhan telah membawa orang Israel ke negeri yang dijanjikanNya. Mereka diberi kota-kota yang besar dan baik yang bukan mereka dirikan.  Rumah mereka penuh berbagai barang yang baik, tetapi bukan mereka yang mengisinya, sumur-sumur yang bukan mereka gali, juga kebun-kebun anggur dan kebun-kebun zaitun yang tidak mereka tanami. Kini, janganlah sekali-kali melupakan dan mengabaikan Tuhan, Pemilik dan Pencipta semuanya  (Ulangan 6:10-12).
Jadikanlah hidupmu bermakna. Jangan sampai hidup kita jatuh ke dalam kesia-siaan. Marilah kita kedepankan karakter suka berbagi. Janganlah seperti lintah yang tamak, tidak pernah berkata cukup, akhirnya membawa kejatuhan dan kematian bagi dirinya  (Amsal 30:15). Jangan sampai hidup bagaikan hidup menjaring angin.-   

Jumat, 16 November 2012

Renungan Week End:

RENUNGAN WEEK END AND HAVE A SATURDAY  NICE:


NOVEMBER 2012                                                                                 SABTU 17

Kolosse 2:13-14                Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita, dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakanNya dengan memakukannya pada kayu salib. 

1 Raja-raja 6: 1-38              Ende No. 238:1           Yohanes 13:18-30

Saudaraku yang kekasih ! Meskipun bukan Paulus yang mendirikan jemaat Kolose ini, namun dia merasa bertanggungjawab dengan sepenuh hati atas masa depan dan kelangsungan pemberitaan Injil di Kolose ini. Di sana ternyata ditemukan guru-guru palsu yang mengajarkan bahwa untuk memperoleh keselamatan yang sempurna, maka orang harus menyembah roh-roh yang menguasai alam serta yang memerintah alam semesta, setia menjalankan peraturan-peraturan sunat, memelihara pantangan dan lain sebagainya.  Paulus meluruskan ajaran yang salah dan menyesatkan itu. Katanya: meskipun kamu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita, dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Hal itu dilakukannya dengan memakukannya pada kayu salib.  Pelanggaran dan dosa, itulah yang membuat kita telah mati. Namun, pengampunan akan pelanggaran itu telah menghidupkan kita kembali. Surat hutang kita telah dihapusNya dengan memakukan diriNya di kayu salib. Kematian dan pengorbanan itulah yang telah menjadi keselamatan bagi kita. Bukan lagi sunat, bukan lagi sekedar hidup berpantang apalagi menyembah roh-roh alam semesta. Saudaraku yang kekasih ! Marilah kita percaya dengan sepenuh hati kepada karya keselamatan yang dibawa dan dikerjakan Kristus bagi kita. Jangan ragukan karya keselamatanNya. Percayalah ! Amin !